REMBANG – Unit deathcore asal Rembang, Gakuen Purgatory, resmi memperkenalkan identitas musikal mereka melalui EP debut bertajuk Liturgi Tirani, yang dirilis pada 16 Juni 2026. Berisi lima lagu yang saling terhubung, rilisan ini menjadi pernyataan artistik pertama band dengan mengangkat tema tentang kemunafikan, manipulasi, hingga kehancuran yang lahir dari kebohongan.
Terbentuk pada 2023, Gakuen Purgatory hadir dengan perpaduan deathcore modern, metalcore, serta sentuhan symphonic yang menghasilkan atmosfer gelap, megah, dan penuh tekanan. Di balik agresivitas musiknya, band ini berupaya menghadirkan narasi yang mengajak pendengar merefleksikan berbagai persoalan dalam kehidupan manusia.
Nama Gakuen Purgatory sendiri berasal dari gabungan kata Gakuen yang berarti "sekolah" dalam bahasa Jepang dan Purgatory yang merujuk pada "api penyucian". Filosofi tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah dunia metaforis yang menggambarkan manusia berhadapan dengan konsekuensi dari kebohongan, kesombongan, kemunafikan, dan kebodohan yang mereka ciptakan sendiri.
Melalui musik yang keras, lirik yang tajam, dan atmosfer yang kelam, Gakuen Purgatory membangun persona sebagai "penghakim" yang menyoroti berbagai bentuk kepalsuan dalam kehidupan. Konsep tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh lagu di dalam Liturgi Tirani.
Sebuah Perjalanan dalam Lima Bab
EP Liturgi Tirani terdiri atas lima komposisi yang disusun layaknya sebuah perjalanan naratif:
- Invokasi
- Mawar Gelap
- Liturgi Tirani
- Apostasia
- Pembual
Kelima lagu tersebut saling berkaitan dan menggambarkan bagaimana manusia dapat tersesat oleh kebohongan yang mereka ciptakan, percaya, bahkan pertahankan. Band ini mengangkat tema tentang kemunafikan yang perlahan menjadi kebiasaan, kebohongan yang berubah menjadi kebenaran semu, hingga munculnya sosok-sosok palsu yang lahir dari rasa takut dan ambisi manusia.
Simbol-simbol seperti penghakiman, tirani, apostasi, dan mesias palsu digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan konsekuensi ketika kebodohan dan manipulasi terus dipelihara.
Makna di Balik Liturgi Tirani
Judul Liturgi Tirani memadukan dua istilah yang memiliki makna berbeda. "Liturgi" identik dengan ritual dan pengabdian, sedangkan "tirani" melambangkan dominasi dan penindasan.
Melalui judul tersebut, Gakuen Purgatory ingin menggambarkan bagaimana sesuatu yang awalnya dianggap benar dapat berubah menjadi alat manipulasi ketika diterima tanpa kesadaran maupun keberanian untuk mempertanyakannya.
Dikerjakan Secara Mandiri
Proses kreatif Liturgi Tirani berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Selain menulis lagu, para personel juga mempelajari berbagai aspek produksi musik secara mandiri, mulai dari penggunaan digital audio workstation (DAW), proses rekaman, hingga mixing, mastering, dan penyusunan aransemen.
Seluruh proses mixing, mastering, penulisan lirik, konsep, hingga artwork dikerjakan oleh vokalis Davie Yakusaa, bersama Febri Pradana yang turut berkontribusi dalam penyusunan konsep dan lirik.
Menurut Davie, EP ini lahir dari kegelisahan terhadap berbagai fenomena yang mereka saksikan di sekitar.
"Kami menulis Liturgi Tirani sebagai refleksi terhadap banyak hal yang kami lihat di sekitar kami. Banyak orang berbicara tentang kebenaran, tetapi justru hidup dalam kepalsuan. EP ini adalah cara kami mengekspresikan kemarahan terhadap hal tersebut," ujar Davie Yakusaa.
Formasi Band
Gakuen Purgatory saat ini diperkuat oleh:
- Davie Yakusaa – Vokal
- Febri Pradana – Gitar
- Renald – Gitar
- Amar – Bass
- Ega – Drum
Melalui Liturgi Tirani, Gakuen Purgatory berharap dapat memperkenalkan identitas musikal mereka kepada skena musik ekstrem Indonesia sekaligus menyampaikan refleksi kritis mengenai berbagai bentuk kepalsuan yang masih kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dengan karakter musik yang agresif dan konsep yang kuat, EP debut ini menjadi langkah awal band asal Rembang tersebut untuk membangun pijakan di kancah deathcore nasional.
