Horush Rilis "Crownless Throne", Angkat Keserakahan Penguasa dan Penderitaan Rakyat


Band death metal asal Yogyakarta, Horush, kembali melancarkan serangan lewat single terbaru bertajuk "Crownless Throne". Dirilis pada 21 Oktober 2026 melalui Metalgear Music, lagu ini membawa kritik terhadap perebutan kekuasaan, pengkhianatan, hingga penderitaan masyarakat akibat ambisi para penguasa.

Lewat "Crownless Throne", Horush tidak hanya menawarkan musik ekstrem dengan karakter yang lebih agresif, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan, darah, dan ketidakadilan.

Narasi tersebut tergambar dalam penggalan lirik, "A rotting king devours his throne". Kalimat ini menggambarkan sosok penguasa yang justru menghancurkan takhta dan kepercayaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Dalam lagu ini, takhta kosong menjadi simbol perebutan kekuasaan yang seolah tidak pernah berakhir. Ketika para penguasa sibuk mempertahankan ambisi, masyarakat justru harus menanggung dampaknya, mulai dari kelaparan hingga penindasan dan hilangnya keadilan.

Horush juga menyoroti bagaimana kebohongan, fitnah, dan manipulasi kepercayaan dapat digunakan untuk mempertahankan kekuasaan. Kritik tersebut disampaikan melalui metafora yang memiliki relevansi dengan dinamika sosial-politik saat ini, termasuk situasi di Indonesia.

Meski mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Horush memilih menyampaikannya melalui narasi artistik yang menjadi bagian dari identitas mereka.

Tawarkan Musik Lebih Agresif

"Crownless Throne" sekaligus menjadi penanda perkembangan musikal Horush dalam perjalanan menuju album kedua. Dibandingkan materi sebelumnya, single ini menghadirkan pendekatan yang lebih segar dan agresif tanpa meninggalkan atmosfer gelap yang melekat pada karakter musik mereka.

Perkembangan tersebut terlihat melalui eksplorasi komposisi, karakter gitar, hingga vokal yang memperkuat intensitas lagu. Horush menjadikan single ini sebagai langkah awal untuk memperkenalkan arah musikal yang akan mereka kembangkan dalam rilisan berikutnya.

Kehadiran Oki Haribowo dari band death metal Indonesia, Death Vomit, sebagai vokal tamu turut memberikan warna tersendiri. Kolaborasi ini menambah dimensi pada "Crownless Throne" sekaligus mempertemukan dua nama dari skena musik ekstrem Indonesia dalam satu karya.

Seluruh musik dan lirik lagu ditulis oleh Horush. Proses rekaman berlangsung di Transient Rekordwoks dan Rumah Tua Record, sementara proses mixing dan mastering ditangani Transient Rekordwoks. Ilustrasi untuk rilisan ini dikerjakan oleh Adi Dechristianize.

Perjalanan Horush Menuju Album Kedua

Horush memiliki perjalanan panjang di skena death metal Yogyakarta. Band ini berawal dari perjalanan grup bernama Treatment yang terbentuk pada 2010. Pada awalnya, mereka memainkan slamming death metal sebelum mengembangkan karakter musik dengan memadukan berbagai subgenre death metal.

Sebelum merilis "Crownless Throne", Horush telah memperkenalkan sejumlah materi, termasuk demo "Evilness Is Being Created" pada 2016, demo "Armageddon" pada 2020, serta album penuh "Armageddon" yang dirilis pada 2024.

Kini, Horush diperkuat oleh Aprek pada vokal dan gitar, Akmal pada lead guitar, Taji pada bass, serta Mayon pada drum.

Melalui "Crownless Throne", Horush membuka babak baru perjalanan mereka sekaligus memberikan gambaran tentang arah musik yang tengah dipersiapkan menuju album kedua.

Single berdurasi 4 menit 4 detik ini sudah tersedia di berbagai platform musik digital, termasuk Spotify, Apple Music, dan Deezer. Sementara itu, video lirik "Crownless Throne" dapat disaksikan melalui kanal YouTube Metalgear Music.

Dengan perpaduan musik death metal yang agresif dan lirik penuh kritik, Horush kembali menegaskan bahwa musik ekstrem bukan hanya tentang intensitas suara, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyuarakan keresahan terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan.


Post a Comment

Previous Post Next Post

Formulir Kontak