Madelin, Kolumbia – Band crust punk/grindcore asal Medellín, Kolombia, Sórdido, memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya. Setelah lebih dari satu dekade menjadi bagian dari skena musik ekstrem bawah tanah, grup yang dikenal lewat lirik-lirik bernuansa kritik sosial ini kini berlanjut sebagai proyek solo yang digawangi oleh Víctor.
Sórdido dibentuk pada tahun 2012 dengan formasi awal Eddison Guerra (drum), Andrés Sánchez (bass), dan Víctor (gitar dan vokal). Di masa-masa awal, band ini menggunakan nama Vox Populi, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Sórdido setelah sempat mengalami masa vakum.
Sejak berdiri, Sórdido aktif tampil di berbagai konser musik underground di Kolombia. Konsistensi mereka di jalur independen membuat nama Sórdido dikenal luas di kalangan penggemar crust punk dan grindcore. Pada tahun 2021, band ini juga sempat hadir dalam sejumlah wawancara radio yang semakin memperkuat eksistensinya di komunitas musik ekstrem Kolombia.
Perubahan besar terjadi pada 2025, ketika proses rekaman album terbaru bertajuk Medellín Distópica rampung. Album tersebut memuat singel "El Precio Natural de las Cosas" (Harga Alami dari Segala Sesuatu). Setelah sesi rekaman selesai, dua personel lainnya memutuskan untuk mengakhiri keterlibatan mereka di band.
Alih-alih menghentikan perjalanan Sórdido, Víctor memilih untuk meneruskannya sebagai proyek solo. Kini berbasis di Bello, bagian dari kawasan metropolitan Medellín, ia menangani seluruh instrumen sekaligus vokal sendiri, sembari tetap mempertahankan filosofi DIY (Do It Yourself) yang sejak awal menjadi identitas band.
Lirik Sebagai Kritik Sosial
Sejak awal berdiri, Sórdido dikenal mengangkat tema-tema yang lekat dengan realitas sosial. Band ini mengajak pendengarnya untuk melihat kembali nilai-nilai kemanusiaan di tengah kehidupan yang mereka gambarkan dipenuhi sistem yang menindas dan mengendalikan manusia.
Nama Sórdido, yang dalam bahasa Spanyol berarti kotor, dipilih sebagai simbol sebuah kota yang hancur, penuh kehampaan, dan meninggalkan jejak kekerasan manusia. Filosofi tersebut menjadi fondasi utama dalam penulisan lirik maupun arah musikal mereka.
Salah satu karya yang mencerminkan identitas tersebut adalah lagu "Colombia Sangrienta" (Kolombia Berdarah). Lagu ini menggambarkan dampak konflik bersenjata yang berkepanjangan di Kolombia melalui narasi tentang kota-kota yang dilanda perang, masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang kekerasan, anak-anak yang menjadi korban konflik, hingga kritik terhadap pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari peperangan. Liriknya juga menyoroti bagaimana ingatan kolektif terhadap sejarah kekerasan perlahan memudar.
Crust Punk Cepat dan Agresif
Secara musikal, Sórdido memadukan karakter crust punk dan grindcore dengan tempo cepat, riff agresif, blast beat, serta sesekali menghadirkan nuansa melankolis yang memperkuat atmosfer lagu. Band ini menggambarkan musik mereka sebagai ledakan energi yang ditujukan untuk panggung-panggung underground—mengajak penonton berteriak, bergerak, dan meluapkan emosi.
Diskografi
Selama perjalanannya, Sórdido telah merilis sejumlah karya, di antaranya:
Album
- Tumba para los pobres (2014)
- Miserandum et ruinam (2015)
- Síntomas de depresión (2019)
Single
- Crueldad Animal (2014)
- Muerto en la Arena (2015)
- Esta es Nuestra Vida (2016)
- Conflictos de Interés (2017)
- En Boca de Lobos (2019)
Split Release
- Aplastando la Plaga (2016)
- Érase una Vez... en las Tierras del Matador (2016)
- Colombia Sangrienta (2017)
Kompilasi
Antología de Ruido y Miseria (2021)
Meski kini berjalan sebagai proyek solo, Sórdido tetap mempertahankan identitas yang telah dibangun sejak awal: musik ekstrem yang lahir dari semangat DIY, dipadukan dengan kritik terhadap perang, ketimpangan sosial, penindasan, dan berbagai persoalan kemanusiaan. Di tengah perubahan formasi, proyek ini terus menjadi wadah bagi Víctor untuk menyuarakan keresahan melalui dentuman crust punk dan grindcore yang keras, gelap, dan tanpa kompromi.


