Bandung — Berangkat dari persahabatan dan pertemuan lima kepala dengan selera musik yang berbeda, MANGRAL tumbuh menjadi salah satu unit rap rock yang mencoba menyatukan energi liar, kritik sosial, dan keberagaman musikal dalam satu identitas.
MANGRAL terbentuk di Bandung pada 2011. Kelima personelnya—Dani Sura Ginting Suka alias SUARASURA (vokal & rap), Arri Rama Putra (gitar & backing vocal), Anugrah Rizki Ramadhan (bass), Agung Luthfian Hakim (drum & backing vocal), serta Mikael Junius (keyboard & backing vocal)—dipertemukan oleh persahabatan sejak sama-sama menempuh pendidikan di Universitas Katolik Parahyangan.
Alih-alih melihat perbedaan selera musik sebagai jarak, MANGRAL justru menjadikannya sebagai bahan bakar kreativitas.
Sura membawa akar rap dan hip hop. Arri datang dengan kecintaan terhadap blues dan rock. Rizki memiliki ketertarikan kuat pada metal, sementara Agung banyak dipengaruhi alternative rock. Di sisi lain, Lius membawa warna pop melalui permainan keyboardnya.
Lahir dari “Anjing Kampung”
Nama MANGRAL sendiri terinspirasi dari kata dalam bahasa Inggris, mongrel, yang berarti anjing kampung.
Bagi MANGRAL, istilah tersebut bukan sekadar nama, melainkan representasi dari karakter musik mereka: liar, keras, tidak mudah dikotakkan, tetapi memiliki daya tahan tinggi.
Anjing kampung sering kali dipandang sebelah mata karena penampilannya. Namun di balik stigma tersebut terdapat karakter yang justru menjadi inspirasi MANGRAL—setia, tangguh, mampu beradaptasi dalam berbagai keadaan, sekaligus memiliki naluri untuk melindungi orang yang dianggapnya penting.
Semangat itulah yang kemudian diterjemahkan MANGRAL ke dalam musik: tidak harus tampil sempurna untuk bisa bertahan, tidak harus mengikuti arus untuk memiliki arti.
Secara lirik, karya-karya MANGRAL banyak berbicara tentang persoalan sosial, budaya dan politik, problematika anak muda, penghargaan terhadap sosok atau kelompok inspiratif, spiritualitas, hingga cerita-cerita fiksi.
Rap rock menjadi akar utama, tetapi MANGRAL membiarkan setiap pengaruh musik dari masing-masing personel menemukan ruangnya sendiri.
Delapan Tahun Menuju “M”
Setelah melewati perjalanan selama delapan tahun, MANGRAL akhirnya merilis album perdana bertajuk “M”.
Album tersebut dibuka dengan single “Maksudnya Apa?”, kemudian dilanjutkan melalui “Manipulasi Mimpi”, sebuah lagu yang menghadirkan kolaborasi dengan bassist legendaris Indonesia, Yuke Sampurna, yang dikenal melalui kiprahnya bersama Dewa 19 dan The Groove.
Rangkaian single tersebut kemudian ditutup dengan “Mencari Majapahit”, sebelum album “M” dirilis secara utuh.
Berisi delapan lagu, “M” tidak sekadar hadir sebagai kumpulan rekaman, tetapi juga dikemas dalam format fisik berupa boxset eksklusif.
Peluncuran boxset “M” berlangsung di kawasan Pasir Koja, Bandung, bekerja sama dengan Yayasan Bagea, sebuah yayasan yang bergerak dalam pembinaan anak-anak yang membutuhkan.
Peluncuran tersebut juga dirangkai dengan kegiatan bakti sosial. Sebagian hasil penjualan boxset album “M” kemudian didonasikan melalui Yayasan Bagea sebagai bentuk kepedulian MANGRAL terhadap sesama.
Pada awal 2020, album perdana tersebut kemudian diperluas jangkauannya melalui perilisan digital di berbagai platform musik.
Bukan Sekadar Musik
Bagi MANGRAL, musik bukan hanya persoalan bunyi, panggung, atau album. Musik juga menjadi ruang untuk menyampaikan kegelisahan, membaca keadaan, mengingat sejarah, serta berbicara tentang manusia dan lingkungan sosialnya.
Dari rap dan rock, mereka membangun ruang yang cukup luas untuk memasukkan berbagai gagasan. Dari perbedaan latar belakang musikal para personelnya, MANGRAL justru menemukan karakter yang sulit disamakan dengan unit lain.
MANGRAL adalah tentang keberanian untuk tetap liar, bertahan dalam keadaan apa pun, dan terus berjalan tanpa kehilangan identitas.
Contact & Email

.png)