Whimsy Resmi Rilis Lolliverse, Album Debut 11 Lagu yang Menjelajah Warna-Warni Emosi Manusia

Whimsy Rilis Album Debut Lolliverse, 11 Lagu tentang Cinta, Kehilangan, hingga Penyesalan

SEMARANG – Band story-driven asal Semarang, Whimsy, resmi merilis album debut bertajuk Lolliverse pada 28 Agustus 2026. Membawa 11 lagu dengan warna musik yang beragam, album ini menjadi perjalanan emosional Whimsy dalam menerjemahkan cerita, pengalaman, dan dinamika kehidupan manusia ke dalam musik.

Album Lolliverse hadir setelah Whimsy merilis sejumlah single sejak 2023. Salah satu rilisan terbarunya adalah “Smells Like Trouble”, yang dilepas pada Juni 2026 dan menjadi salah satu jembatan menuju album perdana mereka.

Whimsy diperkuat oleh Naora Anindya sebagai vokalis, Ferdi Sembodo pada drum, Abel Chaska dan Anky Ardy pada gitar, serta Rafael Siloam pada bass.

Bagi Whimsy, Lolliverse bukan sekadar album debut. Mereka membangun sebuah dunia yang di dalamnya terdapat 11 “wahana” emosi manusia.

Mulai dari harapan, cinta, rasa ingin tahu, godaan, kehilangan, kerinduan, penyesalan, refleksi hingga penerimaan, semuanya diterjemahkan melalui karakter musik yang berbeda.

“Setiap manusia punya cerita dan cerita punya suaranya sendiri. Kami mencoba menangkap suara-suara setiap cerita, setiap emosi di dalamnya, lalu kami hadirkan dalam komposisi musik di album ini,” ujar drummer Whimsy, Ferdi Sembodo.


Whimsy dan Filosofi Musik Lolli-POP!

Salah satu hal yang membuat Lolliverse menarik adalah pendekatan musikal yang digunakan Whimsy. Mereka menyebut gaya tersebut sebagai lolli-POP!

Namun, lolli-POP! bukanlah genre musik baru yang ingin mereka klaim. Istilah tersebut justru menjadi filosofi kreatif dalam menciptakan musik.

Layaknya lolipop yang mempunyai banyak warna dan rasa tetapi tetap menjadi satu kesatuan, Whimsy membebaskan setiap lagu untuk memiliki karakter musikalnya sendiri.

Di dalam Lolliverse, pendengar dapat menemukan pop yang manis, energi EDM, sentuhan blues, atmosfer elektronik yang euphoric, hingga ballad yang lebih reflektif.

Pendekatan tersebut menjadi cara Whimsy untuk menghindari batasan genre ketika sedang menceritakan emosi tertentu.

“Manusia tidak hidup dengan satu emosi, mengapa musik harus terbatas?”

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang mendasari perjalanan musikal Whimsy dalam Lolliverse.

11 Lagu, 11 Cerita Kehidupan

Lolliverse berisi 11 track yang disusun sebagai satu perjalanan emosional.

Daftar lagunya terdiri dari:

  1. Fragments Of Love
  2. Pelangi Sehabis Hujan
  3. You're My Space
  4. 2<3
  5. Smells Like Trouble
  6. Without U
  7. Ocean
  8. i feel okay (when i'm with u)
  9. Paper Thin
  10. suddenly all the love song is for u
  11. Sampai Hari Ini

Menariknya, lagu-lagu tersebut tidak lahir dalam satu periode penciptaan yang seragam. Whimsy justru menjadikan musik sebagai semacam buku harian.

Setiap lagu merupakan catatan dari cerita dan pengalaman yang dialami para personel dalam menjalani kehidupan.

Konsep tersebut membuat Lolliverse terasa personal, tetapi pada saat yang sama terbuka untuk ditafsirkan oleh pendengar.

Kami berharap para pendengar bisa mendapat soundtrack bagi fase-fase hidup mereka di 11 track di album ini,” tutur Ferdi.

Dalam panduan album yang diperkenalkan Whimsy, “Pelangi Sehabis Hujan” menjadi representasi harapan setelah melewati masa sulit. “i feel okay (when i'm with u)” membawa cerita tentang penyesalan, sedangkan “Paper Thin” menyentuh sisi kerentanan seseorang yang berusaha terlihat baik-baik saja ketika sebenarnya sedang mengalami kehancuran.

Dengan pendekatan tersebut, Lolliverse tidak hanya menawarkan musik untuk didengarkan, tetapi juga ruang bagi pendengar untuk menemukan cerita mereka sendiri.

Perjalanan Whimsy dari Single hingga Album Debut

Perjalanan menuju Lolliverse dimulai ketika Whimsy memperkenalkan single debut “Is It Love?” pada 2023.

Setahun berikutnya, mereka merilis “Lagi Jan”. Memasuki 2026, produktivitas Whimsy meningkat melalui “Sampai Hari Ini”, “Without U”, hingga “Smells Like Trouble”.

Rangkaian rilisan tersebut menjadi proses evolusi musikal sebelum akhirnya dirangkum dalam album debut Lolliverse.

Tidak hanya aktif merilis musik, Whimsy juga mengembangkan pengalaman mereka di atas panggung.

Dalam dua tahun terakhir, band asal Semarang ini tampil dalam berbagai festival kampus, collective showcase, dan panggung anak muda di Jawa Tengah.

Whimsy pernah menjadi headliner PORSIMAPTAR 2025 bersama Rizky Febian, HIVI!, dan Elmatu. Mereka juga dipercaya menjadi official opening act Barasuara dalam rangkaian Explorative Tour di Semarang pada 2025.

Selain itu, Whimsy pernah berada dalam satu panggung dengan Ardhito Pramono, menjadi headliner RAYASWARA SMKN 7, tampil dalam Hulutangkis Talk Show UDINUS, serta mengikuti sejumlah agenda musik seperti BTS (Behind The Song) oleh Dipojournal, Atlas Calling Vol.1 dari Whocares Collective, dan Suara Utara di Pekalongan.

Pertumbuhan Digital Whimsy

Perjalanan Whimsy sepanjang 2026 juga terlihat dari pertumbuhan audiens digital mereka.

Data yang dihimpun Whimsy mencatat 39 ribu streams di Spotify, dengan pertumbuhan mencapai 919 persen dan 5,8 ribu listeners atau meningkat 754 persen.

Mereka juga mencatat 121 saves, 156 playlist adds, 157 followers, serta rata-rata 6,7 streams per listener.

Di TikTok, Whimsy mencatat 26,5 ribu likes dari 357 followers. Sementara di Instagram, aktivitas mereka menghasilkan 22,8 ribu views, 3,8 ribu reach, dan 378 interaksi.

Pertumbuhan tersebut menjadi bagian dari perjalanan organik Whimsy yang dibangun melalui rilisan musik, penampilan langsung, serta promosi berbasis komunitas.

Setelah Lolliverse, Whimsy Siapkan Showcase di Semarang

Dirilis pada 28 Agustus 2026, perjalanan Lolliverse belum akan berhenti di platform streaming digital.

Whimsy telah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan, termasuk perilisan merchandise dan showcase di kota asal mereka, Semarang.

Selain musik, Whimsy juga menyiapkan dunia visual yang menjadi bagian dari identitas Lolliverse.

Konsep visual bertajuk “The Whimsy Room” menggunakan satu ruang sebagai pusat dari 11 cerita berbeda. Perbedaan setiap cerita dibangun melalui pencahayaan, gerakan, performa, dan properti.

Pendekatan visualnya menggabungkan nuansa DIY studio, atmosfer teater, kamera statis, pencahayaan hangat, tekstur film, serta pergerakan minimal.

Pada akhirnya, Lolliverse menjadi pernyataan awal Whimsy tentang bagaimana mereka ingin bercerita melalui musik: satu album, 11 cerita, dan emosi manusia yang tidak pernah hanya memiliki satu warna.

Album Lolliverse sudah dapat didengarkan melalui berbagai platform streaming digital sejak 28 Agustus 2026.


Post a Comment

Previous Post Next Post

Formulir Kontak