Grind Core Alliance Vol. 1: Empat Band, Satu Kaset, Satu Suara untuk Palestina

Jakarta — Musik grindcore memang tidak pernah dirancang untuk menjadi musik yang jinak. Suaranya keras, cepat, brutal, dan sering kali membawa keresahan yang tidak bisa disampaikan lewat bahasa yang terlalu halus. Semangat itulah yang terasa dalam Grind Core Alliance Vol. 1, sebuah rilisan four-way split tape yang mempertemukan empat unit extreme underground Indonesia: Error X, Guilties, Extreme Hate, dan Belati Tajam.

Rilisan tersebut diproduksi oleh Tarung Records, label yang dalam skena underground dikenal konsisten mempertahankan format rilisan fisik, khususnya kaset. Di tengah dominasi Spotify, Bandcamp, dan berbagai platform digital, pilihan untuk tetap merilis kaset menjadi bagian penting dari semangat DIY sekaligus upaya menjaga kultur rilisan fisik tetap hidup.

Materi ini kemudian dibedah oleh kanal YouTube LOUD N' ROLL ID melalui program Load and Review. Levoy Owen tampil sebagai host, sementara Rinsdark menjadi co-host. Keduanya tidak sekadar memutar lagu, tetapi ikut mengulik latar belakang proyek, karakter musik masing-masing band, hingga pesan yang dibawa oleh rilisan tersebut.

Empat Band dalam Satu Aliansi

Grind Core Alliance Vol. 1 mempertemukan Error X, Guilties, Extreme Hate, dan Belati Tajam. Keempatnya memiliki karakter yang berbeda, tetapi dipertemukan melalui satu proyek split yang sejak awal memang dirancang sebagai sebuah aliansi antarmusisi grindcore.

Menariknya, konsep Volume 1 bukan sekadar nama. Proyek ini membuka kemungkinan hadirnya volume berikutnya dengan formasi band yang berbeda. Gagasan awal split berasal dari personel Guilties dan Extreme Hate, kemudian Error X serta Belati Tajam ikut bergabung sebelum proposal tersebut diajukan kepada Tarung Records dan akhirnya disetujui.

Konsepnya sederhana: beberapa band, satu rilisan, tetapi masing-masing tetap bebas membawa identitas musiknya sendiri.

Error X: God Save the Grind

Perjalanan dimulai dari Error X, band asal Jakarta yang telah aktif sejak 1997. Mereka menghadirkan “God Save the Grind”, salah satu materi yang secara khusus membawa tema Palestina.

Lagu tersebut menarik karena tidak langsung menghantam sejak detik pertama. Ada bagian awal yang lebih groove sebelum kemudian masuk ke tempo grindcore yang lebih agresif. Vokalnya juga menggunakan perpaduan bahasa Indonesia dan Inggris.

Dalam pembahasan LOUD N' ROLL ID, istilah “grind” dalam judul lagu tersebut kemudian dilihat bukan sekadar sebagai genre musik, tetapi dapat dibaca sebagai metafora perjuangan.

Guilties: Ketika Conscience Telah Mati

Berikutnya ada Guilties, band dari Jakarta yang telah bergerak sejak 2001. Mereka menyumbangkan “When Conscience Dies”.

Lagu ini dibuka dengan suara yang menggambarkan kesedihan seorang ayah setelah kehilangan keluarganya dalam serangan di Gaza. Setelah intro tersebut, Guilties masuk dengan permainan grindcore yang cepat, padat, dan langsung menuju inti lagu.

Judul When Conscience Dies terasa tepat untuk tema yang mereka angkat: tentang kesadaran manusia yang seakan mati ketika penderitaan dan kekerasan terjadi di depan mata.

Secara musikal, lagu tersebut tetap mempertahankan karakter grindcore—tempo cepat, durasi relatif singkat, kemudian kembali menghantam dengan blast beat. Dalam formasi yang dibahas di program tersebut, Guilties juga telah mengalami perubahan personel, termasuk masuknya Adam sebagai vokalis.

Extreme Hate: Murder Song / War Criminal

Dari Tangerang, Extreme Hate menghadirkan “Murder Song / War Criminal”.

Lagu ini menjadi salah satu materi yang paling frontal dalam menyuarakan tema Palestina. Judulnya sendiri sudah memberi gambaran tentang isi yang dibawa: pembunuhan, genosida, dan kritik terhadap kejahatan perang.

Materi tersebut juga menjadi spesial karena menghadirkan kolaborasi vokal. Dalam rekamannya terdapat dua vokal utama dan satu backing vocal. Lagu direkam di Studio 37, Tangerang.

Extreme Hate sendiri disebut telah berdiri sejak 1998 dan dalam rilisan ini menyumbangkan total lima lagu.

Belati Tajam: Ladang Tengkorak dari Jember

Nama terakhir datang dari Jawa Timur. Belati Tajam asal Jember menyumbangkan lagu “Ladang Tengkorak”.

Band yang berdiri sejak 2018 ini mungkin lebih muda dibanding beberapa nama lain dalam split, tetapi personelnya disebut memiliki akar panjang di skena extreme underground di band terdahulunya criminal vagina. Dalam pembahasan LOUD N' ROLL ID, formasi yang disebut terdiri dari Yanto Muchan, Zifu, Pepeng, dan Coreng.

“Ladang Tengkorak” membawa lirik berbahasa Indonesia dan tetap mempertahankan pendekatan ekstrem khas Belati Tajam. Dari hasil listening, permainan drum mendapat perhatian khusus karena penggunaan hammer blast, sementara karakter keseluruhan lagu dinilai memiliki groove yang cukup kuat.

Tidak Semua Harus Terdengar Sama

Salah satu hal yang membuat Grind Core Alliance Vol. 1 menarik justru karena keempat band tidak terdengar seragam.

Ada yang lebih raw, ada yang terdengar lebih rapi, dan ada pula yang bermain lebih liar. Masing-masing membawa sound serta karakter sendiri. Namun perbedaan tersebut tidak membuat split ini kehilangan identitas sebagai rilisan grindcore.

Itulah kekuatan sebuah split: bukan memaksa semua band terdengar sama, tetapi memperlihatkan bagaimana karakter yang berbeda bisa berdiri berdampingan dalam satu rilisan.

Kaset sebagai Pernyataan

Tarung Records juga menjadi bagian penting dari cerita ini. Di saat musik semakin mudah dikonsumsi lewat streaming, label tersebut tetap memilih kaset sebagai medium utama.

Bagi skena underground, kaset bukan hanya benda lama yang kembali populer. Ia adalah arsip, merchandise, koleksi, sekaligus bukti bahwa sebuah karya pernah dibuat dan diperjuangkan secara fisik.

LOUD N' ROLL ID pun menekankan pentingnya mendukung rilisan fisik lokal. Membeli kaset berarti ikut membantu ekosistem label, band, distro, kolektor, dan jaringan DIY yang selama ini menjadi fondasi scene underground.

Bagi yang belum memiliki tape player, materi Grind Core Alliance Vol. 1 juga dapat didengarkan secara online melalui Bandcamp Tarung Records. Namun rilisan fisiknya tetap menjadi bagian penting dari pengalaman dan dokumentasi scene.


LOUD N' ROLL ID: Membawa Review Underground ke Layar

Melalui program Load and Review, LOUD N' ROLL ID mencoba membawa pengalaman mendengarkan rilisan fisik ke ruang digital. Dipandu Levoy Owen sebagai host dan Rinsdark sebagai co-host, program ini menggabungkan listening session, obrolan seputar band, serta pembacaan konteks di balik sebuah rilisan.

Dalam kasus Grind Core Alliance Vol. 1, pembahasan mereka memperlihatkan bahwa sebuah kaset tidak berhenti pada empat sisi materi musik. Ada sejarah pertemanan, jaringan scene, pilihan format fisik, gagasan DIY, hingga isu kemanusiaan yang ikut menempel di dalamnya.

Lebih dari Sekadar Four-Way Split

Pada akhirnya, Grind Core Alliance Vol. 1 bukan cuma empat band yang kebetulan berada dalam satu kaset.

Error X, Guilties, Extreme Hate, dan Belati Tajam datang dengan karakter masing-masing, tetapi bertemu melalui satu gagasan: menjadikan grindcore sebagai ruang untuk berekspresi sekaligus menyuarakan solidaritas terhadap Palestina.

Dan di tengah industri musik yang semakin digital, rilisan seperti ini mengingatkan bahwa musik underground bukan hanya soal suara yang keras, tetapi juga tentang jaringan, sikap, solidaritas, dan keberanian untuk tetap membuat sesuatu dari tangan sendiri.

Grind Core Alliance Vol. 1 mungkin hanya sebuah kaset kecil. Namun di dalamnya tersimpan empat karakter, satu jaringan scene, dan suara yang menolak untuk diam.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post

Formulir Kontak