Jakarta — Musik grindcore memang tidak pernah dirancang untuk menjadi musik yang jinak. Suaranya keras, cepat, brutal, dan sering kali membawa keresahan yang tidak bisa disampaikan lewat bahasa yang terlalu halus. Semangat itulah yang terasa dalam Grind Core Alliance Vol. 1, sebuah rilisan four-way split tape yang mempertemukan empat unit extreme underground Indonesia: Error X, Guilties, Extreme Hate, dan Belati Tajam.
Rilisan tersebut diproduksi oleh Tarung Records,
label yang dalam skena underground dikenal konsisten mempertahankan format
rilisan fisik, khususnya kaset. Di tengah dominasi Spotify, Bandcamp, dan
berbagai platform digital, pilihan untuk tetap merilis kaset menjadi bagian
penting dari semangat DIY sekaligus upaya menjaga kultur rilisan fisik tetap
hidup.
Empat Band dalam Satu Aliansi
Grind Core Alliance Vol. 1 mempertemukan Error X,
Guilties, Extreme Hate, dan Belati Tajam. Keempatnya memiliki karakter yang
berbeda, tetapi dipertemukan melalui satu proyek split yang sejak awal memang
dirancang sebagai sebuah aliansi antarmusisi grindcore.
Menariknya, konsep Volume 1 bukan sekadar nama.
Proyek ini membuka kemungkinan hadirnya volume berikutnya dengan formasi band
yang berbeda. Gagasan awal split berasal dari personel Guilties dan Extreme
Hate, kemudian Error X serta Belati Tajam ikut bergabung sebelum proposal
tersebut diajukan kepada Tarung Records dan akhirnya disetujui.
Konsepnya sederhana: beberapa band, satu rilisan, tetapi
masing-masing tetap bebas membawa identitas musiknya sendiri.
Error X: God Save the Grind
Perjalanan dimulai dari Error X, band asal Jakarta
yang telah aktif sejak 1997. Mereka menghadirkan “God Save the Grind”,
salah satu materi yang secara khusus membawa tema Palestina.
Lagu tersebut menarik karena tidak langsung menghantam sejak
detik pertama. Ada bagian awal yang lebih groove sebelum kemudian masuk ke
tempo grindcore yang lebih agresif. Vokalnya juga menggunakan perpaduan bahasa
Indonesia dan Inggris.
Dalam pembahasan LOUD N' ROLL ID, istilah “grind” dalam
judul lagu tersebut kemudian dilihat bukan sekadar sebagai genre musik, tetapi
dapat dibaca sebagai metafora perjuangan.
Guilties: Ketika Conscience Telah Mati
Berikutnya ada Guilties, band dari Jakarta yang telah
bergerak sejak 2001. Mereka menyumbangkan “When Conscience Dies”.
Lagu ini dibuka dengan suara yang menggambarkan kesedihan
seorang ayah setelah kehilangan keluarganya dalam serangan di Gaza. Setelah
intro tersebut, Guilties masuk dengan permainan grindcore yang cepat, padat,
dan langsung menuju inti lagu.
Judul When Conscience Dies terasa tepat untuk tema
yang mereka angkat: tentang kesadaran manusia yang seakan mati ketika
penderitaan dan kekerasan terjadi di depan mata.
Secara musikal, lagu tersebut tetap mempertahankan karakter
grindcore—tempo cepat, durasi relatif singkat, kemudian kembali menghantam
dengan blast beat. Dalam formasi yang dibahas di program tersebut, Guilties
juga telah mengalami perubahan personel, termasuk masuknya Adam sebagai
vokalis.
Extreme Hate: Murder Song / War Criminal
Dari Tangerang, Extreme Hate menghadirkan “Murder
Song / War Criminal”.
Lagu ini menjadi salah satu materi yang paling frontal dalam
menyuarakan tema Palestina. Judulnya sendiri sudah memberi gambaran tentang isi
yang dibawa: pembunuhan, genosida, dan kritik terhadap kejahatan perang.
Materi tersebut juga menjadi spesial karena menghadirkan
kolaborasi vokal. Dalam rekamannya terdapat dua vokal utama dan satu backing
vocal. Lagu direkam di Studio 37, Tangerang.
Extreme Hate sendiri disebut telah berdiri sejak 1998 dan
dalam rilisan ini menyumbangkan total lima lagu.
Belati Tajam: Ladang Tengkorak dari Jember
Nama terakhir datang dari Jawa Timur. Belati Tajam
asal Jember menyumbangkan lagu “Ladang Tengkorak”.
Band yang berdiri sejak 2018 ini mungkin lebih muda
dibanding beberapa nama lain dalam split, tetapi personelnya disebut memiliki
akar panjang di skena extreme underground di band terdahulunya criminal vagina.
Dalam pembahasan LOUD N' ROLL ID, formasi yang disebut terdiri dari Yanto
Muchan, Zifu, Pepeng, dan Coreng.
“Ladang Tengkorak” membawa lirik berbahasa Indonesia dan
tetap mempertahankan pendekatan ekstrem khas Belati Tajam. Dari hasil
listening, permainan drum mendapat perhatian khusus karena penggunaan hammer
blast, sementara karakter keseluruhan lagu dinilai memiliki groove yang cukup
kuat.
Tidak Semua Harus Terdengar Sama
Salah satu hal yang membuat Grind Core Alliance Vol. 1
menarik justru karena keempat band tidak terdengar seragam.
Ada yang lebih raw, ada yang terdengar lebih rapi,
dan ada pula yang bermain lebih liar. Masing-masing membawa sound serta
karakter sendiri. Namun perbedaan tersebut tidak membuat split ini kehilangan
identitas sebagai rilisan grindcore.
Itulah kekuatan sebuah split: bukan memaksa semua band
terdengar sama, tetapi memperlihatkan bagaimana karakter yang berbeda bisa
berdiri berdampingan dalam satu rilisan.
Kaset sebagai Pernyataan
Tarung Records juga menjadi bagian penting dari cerita ini.
Di saat musik semakin mudah dikonsumsi lewat streaming, label tersebut tetap
memilih kaset sebagai medium utama.
Bagi skena underground, kaset bukan hanya benda lama yang
kembali populer. Ia adalah arsip, merchandise, koleksi, sekaligus bukti bahwa
sebuah karya pernah dibuat dan diperjuangkan secara fisik.
LOUD N' ROLL ID pun menekankan pentingnya mendukung rilisan
fisik lokal. Membeli kaset berarti ikut membantu ekosistem label, band, distro,
kolektor, dan jaringan DIY yang selama ini menjadi fondasi scene underground.
Bagi yang belum memiliki tape player, materi Grind Core Alliance Vol. 1 juga dapat didengarkan secara online melalui Bandcamp Tarung Records. Namun rilisan fisiknya tetap menjadi bagian penting dari pengalaman dan dokumentasi scene.
LOUD N' ROLL ID: Membawa Review Underground ke Layar
Melalui program Load and Review, LOUD N' ROLL ID
mencoba membawa pengalaman mendengarkan rilisan fisik ke ruang digital. Dipandu
Levoy Owen sebagai host dan Rinsdark sebagai co-host, program ini
menggabungkan listening session, obrolan seputar band, serta pembacaan konteks
di balik sebuah rilisan.
Dalam kasus Grind Core Alliance Vol. 1, pembahasan
mereka memperlihatkan bahwa sebuah kaset tidak berhenti pada empat sisi materi
musik. Ada sejarah pertemanan, jaringan scene, pilihan format fisik, gagasan
DIY, hingga isu kemanusiaan yang ikut menempel di dalamnya.
Lebih dari Sekadar Four-Way Split
Pada akhirnya, Grind Core Alliance Vol. 1
bukan cuma empat band yang kebetulan berada dalam satu kaset.
Error X, Guilties, Extreme Hate, dan Belati Tajam datang
dengan karakter masing-masing, tetapi bertemu melalui satu gagasan: menjadikan
grindcore sebagai ruang untuk berekspresi sekaligus menyuarakan solidaritas
terhadap Palestina.
Dan di tengah industri musik yang semakin digital, rilisan
seperti ini mengingatkan bahwa musik underground bukan hanya soal suara yang
keras, tetapi juga tentang jaringan, sikap, solidaritas, dan keberanian untuk
tetap membuat sesuatu dari tangan sendiri.
Grind Core Alliance Vol. 1 mungkin hanya sebuah kaset
kecil. Namun di dalamnya tersimpan empat karakter, satu jaringan scene, dan
suara yang menolak untuk diam.
