Dari Banjarmasin, DEEPTALKS merangkum hasrat, trauma, kesepian, hingga upaya membebaskan diri dalam enam lagu di EP perdana self-titled mereka.
Ada percakapan yang selesai ketika kata-kata berhenti diucapkan. Namun, ada pula percakapan yang justru menetap jauh lebih lama—berputar di kepala, tumbuh menjadi luka, atau perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Bagi DEEPTALKS, percakapan semacam itu menemukan bentuknya dalam musik.
Unit Modern Metalcore asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini akhirnya membuka seluruh percakapan tersebut lewat EP perdana bertajuk “DEEPTALKS”, yang resmi dirilis pada 28 Juli 2026 di berbagai platform streaming digital.
Enam lagu di dalamnya bukan sekadar kumpulan materi yang disatukan dalam satu rilisan. EP ini dirancang sebagai perjalanan emosional yang bergerak dari titik awal hingga penerimaan. Ada ambisi, obsesi, luka lama, kesepian, pemberontakan, dan pada akhirnya sebuah upaya berdamai dengan perjalanan yang telah dilalui.
“Some conversations stay with us forever. We turned ours into music,” kata Rofie Sanjaya, vokalis, songwriter, sekaligus lyricist DEEPTALKS.
Kalimat itu terasa seperti manifesto kecil bagi band yang terbentuk pada 22 Juni 2024 tersebut.
Bersama Feriza Manuwu pada gitar, Rara pada bass, dan Rino Mangamis di balik drum, DEEPTALKS menjadikan Modern Metalcore sebagai fondasi. Namun, fondasi bukan berarti tembok pembatas.
Di sepanjang EP, mereka membiarkan pengaruh R&B, Rap, Electronic, Pop, dan Alternative masuk dan bernegosiasi dengan distorsi gitar serta energi agresif Metalcore. Hasilnya adalah musik yang tidak hanya mengejar intensitas, tetapi juga memberikan ruang bagi atmosfer dan emosi.
Salah satu contohnya terdengar jelas dalam “Terbunuh Sepi”. Groove gelap menjadi pintu masuk sebelum permainan saksofon memberi warna yang tak terduga. Setelah itu, lagu kembali ditarik menuju distorsi dan energi khas Modern Metalcore.
Alih-alih menjadi gimmick, eksperimen tersebut justru memperlihatkan cara DEEPTALKS memperlakukan genre: sebagai titik berangkat, bukan tujuan akhir.
Enam Lagu, Enam Wajah Emosi
Perjalanan dimulai dari “The Start”. Sesuai judulnya, lagu ini menjadi semacam pintu masuk—tentang keberanian untuk memulai kembali setelah segala sesuatu yang pernah terjadi.
Kemudian hadir “De$ire”, ketika keinginan mulai berkembang menjadi ambisi dan obsesi. Lagu ini menjadi salah satu materi yang lebih dulu diperkenalkan DEEPTALKS kepada publik.
Setelah hasrat, datang luka.
“Trauma” membawa pendengar memasuki ruang yang lebih gelap, tempat masa lalu belum sepenuhnya selesai. Ingatan tidak selalu hilang hanya karena waktu berjalan.
Dari sana, perjalanan bergerak menuju “Terbunuh Sepi”. Kesunyian di sini bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan ruang kosong yang perlahan menggerogoti seseorang dari dalam.
Namun, EP ini tidak membiarkan pendengarnya tinggal terlalu lama di titik tersebut.
“Break The Chains” menjadi momen ketika seseorang mulai melawan. Belenggu masa lalu dicoba untuk dilepaskan, meski prosesnya tentu tidak sesederhana membalik halaman.
Kemudian semuanya bermuara pada “Crown”.
Jika lima lagu sebelumnya terasa seperti perjalanan mencari jalan keluar, “Crown” menjadi titik penerimaan. Bukan berarti semua luka tiba-tiba sembuh, melainkan bagaimana seseorang belajar melihat seluruh perjalanan sebagai bagian dari dirinya.
Dengan urutan tersebut, “DEEPTALKS” terasa lebih dekat dengan sebuah cerita daripada sekadar enam lagu yang ditempatkan dalam satu daftar putar.
Dari Single Menjadi Sebuah Kesatuan
Sebelum EP ini lahir, tiga lagu telah lebih dulu menjadi bagian dari perjalanan DEEPTALKS.
“De$ire”, “Break The Chains”, dan “Trauma” dirilis secara bertahap sepanjang 2024 hingga awal 2026. Ketiganya menjadi semacam potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya ketika DEEPTALKS menyelesaikan tiga materi baru.
Setelah “Trauma” dirilis, band ini memilih untuk tidak buru-buru menjejalkan materi berikutnya. Mereka justru memusatkan perhatian pada proses kreatif untuk menyelesaikan EP sebagai satu karya yang utuh.
Di balik proses tersebut, Feriza Manuwu memainkan peran besar. Selain gitaris, ia menjadi produser sekaligus menangani proses mixing dan mastering. Seluruh materi direkam di Hollowlab Studio, ruang yang juga menjadi markas kreatif DEEPTALKS.
Sementara Rofie Sanjaya bertanggung jawab atas seluruh lirik, komposisi dikerjakan bersama oleh Rofie dan Feriza.
Kolaborasi tersebut membuat “DEEPTALKS” memiliki benang merah yang cukup kuat meski setiap lagu diberi ruang untuk bergerak ke arah yang berbeda.
Musik sebagai Ruang untuk Bercermin
Pada akhirnya, kekuatan utama EP ini mungkin bukan terletak pada seberapa keras gitar mereka berbunyi atau seberapa agresif breakdown yang ditawarkan.
Justru ada pada gagasan sederhana yang menjadi dasar kelahirannya: bahwa pengalaman personal dapat menemukan bentuk baru ketika diterjemahkan menjadi musik.
DEEPTALKS tidak berusaha mengatakan bahwa mereka memiliki semua jawaban. Sebaliknya, mereka menawarkan enam lagu yang memungkinkan pendengarnya menemukan jawaban masing-masing.
“Kami ingin setiap orang menemukan sebagian dari dirinya di dalam enam lagu ini. Jika setelah mendengarkannya ada satu lagu yang terasa seperti sedang menceritakan hidup mereka sendiri, maka tujuan EP ini telah tercapai.”
Pernyataan tersebut membuat judul “DEEPTALKS” terasa semakin masuk akal.
Sebab, mungkin percakapan terdalam memang tidak selalu membutuhkan dua orang. Kadang ia berlangsung antara seseorang dengan masa lalunya, dengan ketakutannya, dengan ambisinya, atau bahkan dengan dirinya sendiri.
Dan kali ini, percakapan itu berlangsung melalui enam lagu.
Setelah EP dirilis, DEEPTALKS telah menyiapkan sejumlah agenda untuk membawa materi tersebut keluar dari ruang streaming. Hearing session/listening party, Official Visualizer “The Start”, video musik “The Start” dan “Terbunuh Sepi”, live session, showcase, tour, merchandise, hingga materi baru menjadi bagian dari rencana perjalanan mereka berikutnya.
Jika EP ini adalah bab pertama, maka perjalanan DEEPTALKS jelas belum selesai.
DEEPTALKS kini tersedia di Spotify, Apple Music, YouTube Music, Deezer, Amazon Music, dan berbagai platform streaming digital.
Tracklist — “DEEPTALKS”
- The Start
- De$ire
- Trauma
- Terbunuh Sepi
- Break The Chains
- Crown
- Rofie Sanjaya — Vokal, Songwriting, Lirik
- Feriza Manuwu — Gitar, Komposisi, Produksi
- Rara — Bass
- Rino Mangamis — Drum
